Senin, 06 Agustus 2012

LAPORAN PENDAHULUAN DEMAM THYPOID


DEMAM THYPOID

LAPORAN PENDAHULUAN
DEMAM THYPOID
A.    Pengertian.
Thypoid adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri salmonella thyposa. Thypoid adalah infeksi akut pada usus halus yang menimbulkan gejala-gejala. Bakteri ini disebabkan oleh lalat melalui makanan dan minuman yang masuk dalam perut. Penularannya terjadi secara fecal oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi sumber utama Carrier, masa tunas penyakit ini 1-3 minggu, orang yang pernah kena penyakit Thypus disebut “Corner Thypus”.
B.     Etiologi.
◘       Samonella Thypi.
◘       Samonella Parathypi A.
◘       Samonella Parathypi B.
◘       Samonella Parathypi C.
C.     Patofisiologi.
Kuman salmonella masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis, di tempat ini bisa terjadi komplikasi pendarahan. Kemudian masuk ke aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe, setelah itu masuk ke aliran darah, sedangkan yang lain mencapai hati. Kuman salmonella bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian retikuloendotelial. Endotoksin kuman salmonella berperan pada patogenesis demam typhoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman salmonella berkembang biak. Demam pada typhoid disebabkan karena kuman salmonella dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.



Basil tertelan
Usus halus akan bermutifikasi menembus usus halus



dan pembuluh limfe intestinal



Intestinal
Aliran darah



Fagotis oleh sistem Retikuloendotial



Bakterimia yang berulang
Manifestasi Thypus Abdomominalis/ Thypoid
D.    Manifestasi Klinis.
Masa tunas demam Thypoid berlangsung 10 – 14 hari yang tersingkat 4 hari, jika terjadi infeksi melalui makanan, gejala yang timbul tiba-tiba atau berangsur-angsur, penderita cepat lemah, anorexia, sakit kepala, rasa tidak enak di perut dan nyeri seluruh tubuh.
Dalam minggu pertama atau pada masa inkubasi, mungkin ditemukan gejala prodromal serupa dengan penyakit infeksi akut yaitu lesu, demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anorexia, mual dan muntah, konstipasi atau diare, perasaa tidak enak di perut dan batuk. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu bada meningkat. Pada minggu kedua tanda dan gejala menjadi lebih jelas.
♦        Demam.
Pada kasus khas demam berlangsung 3 minggu, bersifat febris remiktem dan suhu tidak seberapa tinggi, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore hari dan pada malam hari, pada minggu ketiga suhu tubuh berangsur turun dan normal kembali.
♦        Bradikardi Relatif
Terjadi penurunan nadi 20 – 40 x/m, dimana semestinya nadi bertambah 18 x/m, bila suhu meningkat 1 ‘C
♦        Lidah Yang Khas.
Kotor di tengah, tepi dan ujungnya merah bila dikeluarkan tampak tremor.
♦        Tanda – Tanda Toksemia.
Kedua pipi kemerahan, muka basah sedangkan tubuh kering, apatis dan pandangan jauh serta jari bergerak-gerak seperti meretik tanpa disadari.
E.     Pemeriksaan Penunjang.
Kelainan yang terjadi pada pemeriksaan laboratorium :
1.      Nilai leukosit dalam darah berkisar antara 5.000 – 6.000 /mm, tetapi bisa dijumpai antara 1.200 – 20.000 /mm.
2.      LED biasanya meningkat.
3.      Trombosit menurun mencapai 150.000 /mm.
4.      Serum transaminase meningkat dan bilirubin bisa 2x normal.
5.      Terjadi kenaikan protrombin dan sebagian waktu tromboplastin fibrinogen menurun demikian juga fibrin degradasi produk.
6.      Bisa terjadi hiponatremia dan hipokalemia namun biasanya ringa.
7.      Urine dijumpai sedikit protein dan leukosit.
8.      Fungsi ginjal bisa normal kadang bisa turun.
9.      Anemia dapat terjadi namun ringan kecuali terjadi pendarahan.
Widal Test:
Yaitu seseorang terjadi aglutinasi antara antigen dengan antibodi (aglutinin), maksudnya adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serim pasien yang disangka menderita Thypoid.

F.      Penatalaksanaan Medis
1.      Perawatan.
Penderita Thypoid perlu dirawat di Rumah Sakit untuk isolasi, observasi dan pengobatan, penderita harus tirah baring sampai minimal 7 hari, batas panas atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi dilakukan secara sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien, penderita yang kesadarannya menurun posisi tubuh harus diubah pada waktu-waktu tertentu untuk menghindari komplikasi dekubitus, defekasi, dan miksi perlu diperhatikan karena kadang-kadang terjadi konstipasi dan retensi urine.
2.      Diet/ Terapi Diet.
Yaitu penatalaksanaan diet penyakit Thypus Abdominalis dengan tujuan :
a)       Memberi makanan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan yang bertambah guna mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.
b)      Pemberian makanan yang cukup dan seimbang tidak merangsang dan tidak memperberat kerja saluran pernafasan.
c)       Jika adanya peradangan pada usus halus, maka harus diberikan secara hati-hati untuk menghindari rangasangan terutama dari serat kasar.
Penderita diberi bubur saring kemudian bubu kasar, dan akhirnya diberi nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan. Beberapa penelitian menunjukan bahwa pemberian makanan pada dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman pada penderita Thypoid.
3.      Obat – Obatan.
♦        Klorampenikol 4.500 mg selama 14 hari.
♦        Limfenikol 3.300 mg.
♦        Kotrimoxazol 12.480 mg selama 4 hari.
♦        Ampicillin dan Amoxillin 341 gr selama 14 hari.
Obat-obatan anti piretik tidak perlu diberikan secara rutin pada penderita Thypoid. Pada penderita toksik dapat diberikan kortikosteroid oral atau parenteral dalam dosis yang menurun secara bertahap selama 5 hari, hasil biasanya memuaskan. Kesadaran penderita menjadi baik dan suhu tubuh cepat turun sampai normal, akan tetapi kortikosteroid tidak boleh diberikan tanpa indikasi karena dapat menyebabkan pendarahan intestinal.
G.    Konsep Teoritis As-Kep Dengan Thypoid.
♦        Pengkajian.
Selama demam Thypoid perawat memonitor perubuhan suhu tubuh pasien melalui tindakan langsung seperti mengukur suhu tubuh pasien dengan termometer, observasi pasien dari wajah sampai kaki, apa terdapat kemerahan kulit akibat peningkatan suhu tubuh .
Palpasi daerah abdomen untuk mengetahui adanya nyeri tekan pada abdomen, palpasi denyut nadi pasien, auskultasi bising usus serta kaji pola makan dan perubahan nutrisi pasien.
H.    Diagnosa dan Intervensi Keperawatan.
1.      Hipertermi berhubungan dengan infeksi Salmonella Thyposa.
Intervensi:
1)      Observasi suhu, nadi, tensi dan pernafasan.
2)      Obersevasi keluhan tingkat kesadaran klien.
3)      Observasi dan catat intake dan output cairan.
2.      Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia.
Intervensi:
1)      Kaji status nutrisi rasional untuk mengetahui status nutrisi klien.
2)      Mengkaji intake dan output makanan dengan mengetahui kebutuhan yang masuk.
3)      Anjurkan klien untuk makan sedikit demi sedikit tapi sering.
4)      Beri makanan yang disukai klien.
Kolaborasi:
5)      Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna;.
3.      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah dan diare.
Intervensi:
1)      Kaji perubahan TTV.
2)      Kaji turgor kulit dan kelembaban membran mukosa.
3)      Monitor intake dan output cairan.
4)      Anjurkan klien untuk makan yang banyak.
5)      Beri klien makanan rendah serat.
Kolaborasi:
6)      Beri obat SOD, misal: Antipiretik, Antiemetik.
7)      Beri infus SOD untuk mempertahankan cairan dalam tubuh.
4.      Gangguan rasa nyaman; nyeri berhubungan dengan inflamasi/ infeksi usus.
Intervensi:
1)      Kaji peningkatan suhu tubuh klien.
2)      Beri kompres dingin.
3)      Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang tipis.
4)      Anjurkan klien untuk minum banyak.
5)      Beri ventilasi udara.
Kolaborasi:
6)      Beri obat SOD.
5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring.
Intervensi:
1)      Kaji TTV.
2)      Beri lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa terganggu.
3)      Ajarkan tehnik penghematan energi.
4)      Anjurkan klien untuk selalu melakukan gerakan pasif.
5)      Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas ringan.
6.      Resiko tinggi terjadinya trauma berhubungan dengan mental delirium/ psikosis.
Intervensi:
1)      Jaga keamanan lingkungan klien.
2)      Libatkan keluarga untuk mencegah bahaya jatuh/ benturan pada klien dan memberi tahu perawat bila memerlukan bantuan.
3)      Observasi tingkat kesadaran dan TTV.
4)      Kolaborasi dengan dokter bila klien makin gelisah dan kesadaran menurun.

DAFTAR PUSTAKA.
 Carpenito, Linda Juall, et all. 2000. Diagnosa Keperawatan. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran, EGC.
Ovedaff, D. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I Edisi Ke-3. Jakarta: Media Aeculapius. FKUI.
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. 1996. Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 edisi  ke-3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Jakarta.
Syaifuddin. 1994. Anatomi Fisiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar